Dulu
kamu sering asyik melihat setiap tulisanku dilayar handphone atau laptopmu.
Kamu sering baca setiap kata – kata kegalauanku disana. Aku seperti perempuan
yang haus akan kasih sayang. Aku banyak
menangis, mengeluh, dan berharap dikasihani olehmu. Aku bodoh ! aku tolol !
Dulu
mungkin kamu sering mentertawakan setiap kata – kata yang aku tulis di media
sosial akun Twitterku. Aku tahu walaupun
memerhatikan akun Twitterku bukanlah
suatu kebiasaan bagimu. Kegalauan yang selalu aku tulis hanya kamu anggap
sampah, dan setiap kata – katanya pun selalu membuat kamu begitu marah. Kamu
tidak lagi mau melihat sampah – sampah yang mengotori beranda akun TwitterMu. Kamu semakin sering menegurku
yang seperti ke kanak – kanakkan.
Tulisan
busukku selalu mengundang kemarahanmu.
Kamu terlalu peduli dengan hal ini, tapi tidak dengan perasaanku. Sungguh aku
benci lelaki seperti kamu, yang selalu memposisikan dirinya berada dibagian
atas. Kegalauanku semakin dalam, aku mulai berhenti menebarkan setiap huruf
seperti sampah yang mengotori beranda akun Twittermu.
Mulai
saat itu aku berjanji untuk tidak menggalaukanmu lagi. Kamu harus tahu aku
berjuang setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku untuk membencimu.
Bisakah kamu membayangkan aku yang setiap hari menahan tangisku, hanya agar
tetap terlihat baik – baik saja oleh mu ? Pasti tidak ! kamu anti sakit hati.
Terakhir
tulisan sampahku berpesan “Sayang hati –
hati kadang cinta datang setelah aku benar – benar pergi” ……..
Beberapa
bulan kemudian aku merasakan tulisan terakhirku menjadi kenyataan. Kamu datang
setelah aku benar – benar pergi, kamu peduli dengan perasaanku disaat aku sudah
tidak mempunyai perasaan apa – apa lagi.
Dan
aku kembali membuka akun Twitterku
untuk sedikit berbagi cerita kebahagianku dengan Twitter (teman curhatku yang paling setia) ahahaa…., kali ini
tulisan sampahku menjadi suatu kemenangan, aku menuliskan kata – kata lagi “Selamat menikmati penyesalanmu sayang”.
Indah bukan rasanya diabaikan ?!! :)
*Sekedar curhatan*
*sekedar cerita*
(y)
BalasHapus:)
Hapus